Berawal dari Kemurahan Hati Pak Kiai, Kini Jadi Jujukan Warga Belajar

 Berdiri sejak 19 Mei 1988, Pondok Pesantren Darusy Syafiiyah di Desa Rantau Puri, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari kini jadi salah satu pesantren yang tertua dengan alumni yang tersebar di kota-kota besar di Jambi. Berikut kiprahnya dalam memajukan dunia di pendidikan di Jambi, khususnya di Kabupaten Batanghari.

REZA FAHLEVI – MUARABULIAN

Sejatinya, usia pondok pesantren di wilayah Kabupaten Batanghari masih sangat tergolong muda bila dibandingkan pondok pesantren di Pulau Jawa. Betapa tidak, keberadaan pondok pesantren di Bumi Serentak Bak Regam ini baru muncul era 80-an.

Jarak pondok pesantren Darusy Syafiiyah ke ibu kota Kabupaten Batanghari dan Kota Jambi tidak terlalu jauh. Jaraknya hanya sekitar 15 Kilometer ke Kota Muarabulian dan 50 Kilometer ke Kota Jambi. Pondok pesantre ini didirikan atas prakarsa almarhum KH. Abd. Muid Shofi, putra asli desa Rantau Puri yang lahir pada tahun 1933.

Pembangunan pondik berawal dari kemurahan hati kiai yang mewakafkan tanah pribadinya seluas 6,5 hektar untuk Yayasan Darusy Syafiiyah. Tokoh kharismatik di Batanghari ini juga sekaligus pemimpin pondok Pesantren tersebut sampai berkembang hingga dirinya wafat.

Kini pesantren tertua itu dipimpin oleh H. Muhammad Daniel S.Pd.i. Diceritakannya, pada awalnya pondok pesantren Darusy Syafiiyah dibangun dengan bahan seadanya, bermodalkan bahan kayu bulat, papan dan alang-alang, pada saat itu almarhum KH. Abd. Muid Shofi dibantu masyarakat sekitar membangun dua unit ruang belajar, satu unit kantor dan dua unit rumah guru.

“Bangunan pondok awalnya masih lantai tanah, dinding papan dan atap alang-alang,” kata Muhammad Daniel seperti dikutip Jambi Ekspres (Jawa Pos Group).

Kemudian dia menuturkan pendirian pondok pesantren Darusy Syafiiyah diawali niat suci serta tulus ikhlas kepada Allah SWT untuk menegakkan syiar islam. Niat ini dilatar belakangi situasi sosial masyarakat setempat yang pada saat itu banyak sekali anak-anak yang putus sekolah

Banyak warga, khususnya anak-anak yang memiliki minat yang tinggi  bersekolah, namun  tidak mampu untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Melihat situasi sosial tersebut, almarhum yang baru selesai menimba ilmu pendidikan agama di seberang Kota Jambi merasa terpanggil untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan guna menunjang dan membantu anak-anak Desa Rantau Puri dan sekitarnya.

Pendirian pesantren dinilai sebagai solusi terbaik mengingat pada saat itu di Kabupaten Batanghari belum ada lembaga atau yayasan yang bergerak dalam bidang Pondok Pesantren. Maka dengan dibantu oleh keluarga dan masyarakat sekitar, didirikan yayasan Darul Arqam.

“Awalnya Pondok Darusy Syafiiyah ini bernama Darul Arqam, nama itu hanya berjalan beberapa bulan dan akhirnya diganti dengan nama yang bertahan hingga sekarang,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Darusy Syafiiyah yang berlandaskan Motto ‘Al Muhafazhotu Bil Qodiimissholih Wal Akdzi Bil Jadidil Ashlah’ tidak butuh waktu lama langsung eksis di tengah masyarakat. Pondok pesantren ini seakan menjadi pilihan utama bagi para orang tua untuk memberikan pembelajaran agama kepada anak-anak mereka. Buktinya, para santri yang datang menimba ilmu ke pesantren ini datang dari berbagai Kabupaten/ Kota di Provinsi Jambi, termasuk dari Provinsi Sumatera Selatan.

“Sampai sekarang masih bertahan, santri yang menimba ilmu agama disini tercatat dari berbagai kabupaten Kota di Provinsi Jambi. Kecuali Kerinci dan Sungai penuh, sekarang sudah tidak lagi,” bebernya.

Di bawah kepemimpinan tangan dingin KH. Abdul Muid Shofi, Pondok Pesantren Darusy Syafiiyah telah mendirikan lembaga pendidikan di bawah naungan yayasan tersebut. Lembaga pendidikan itu berupa Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah (MA) pada tahun 1991, serta mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada tahun 1993. MI tersebut saat ini telah berganti menjadi Diniyah Takmiliyah Awwaliyah.

Adapun fasilitas yang dimiliki Pondok Pensantren Darusy Syafiiyah saat ini telah berkembang sangat pesat. Ponpes ini telah memiliki ruang kantor administrasi, ruang guru, 14 ruang belajar, ruang komputer, ruang koperasi, 20 ruang asrama putra dan 32 ruang asrama putri permanen yang masing – masing berukuran 2 x 2,5 M. Sedangkan untuk sarana olah raga disediakan lapangan bola kaki, volley, takraw dan tenis meja.

Guru dan dewan asatizd Pondok pesantren Darusy Syafiiyah berjumlah 28 orang, sedangkan latar belakang pendidikan guru adalah strata 1, D II, D III, dan alumni berbagai pondok pesantren di Pulau Jawa dan Sumatera. Serta alumni Pondok Pesantren Darusy Syafiiyah sendiri, yang tentunya diutamakan yang mampu menguasai bahasa dan literatur Arab serta Kitab Kuning.

Status guru terdiri dari guru tetap dan guru tidak tetap yang diangkat oleh yayasan. Setiap guru diharuskan untuk tinggal di lingkungan Pondok Pesantren Darusy Syafiiyah.

“Jumlah santri saat ini berjumlah 377 orang, pertahun kita mewisudakan sekitar 70 sampai 80 orang tidak hanya belajar akademik non-akademik pun santri juga diwajibkan seperti, belajar Muhadaroh (ceramah), Hadroh (Rabana), dan Pramuka,’’ ungkap Daniel. (*)

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : JPG/Jawa Pos